Rabu, 12 Agustus 2020

MATI DITUSUK RINDU

mati ditusuk rindu

*Kita tak selalu bisa memilih kenangan-kenangan kita. Adakalanya, mereka menyelinap ke dalam pikiran dan menyambangi momen-momen pribadi kita yang sunyi. Begitulah orang-orang berkata.*

Mengingat kenangan itu adalah keniscayaan yang tak dapat kau kubur begitu saja.
Rindu-rindu yang bertebaran dilangit-langit hati pun haram jika tak diorganisir dengan baik.

Satu kesempatan datang untuk mengenang, dua-tiga kenangan menjadi bahan untuk introspeksi kedepan.
kalimat-kalimat ini memang terdengar seperti bualan kosong yang tak layak dicerna.
Tapi kali ini aku benar-benar ingin kita memawas diri.

Perlu kau ketahui bahwa Bunga tidak mekar dalam waktu semalam, Kota Roma tidak dibangun dalam sehari. Kehidupan dirajut dalam rahim selama sembilan bulan, Cinta yang agung terus bertumbuh selama kehidupan.  Kebanyakan hal yang indah dalam hidup memerlukan waktu yang lama, Dan penantian kita tidaklah sia-sia.

Bagaimana proses yang sudah kita jalani?  Apakah tidak ada yang membekas? Apakah kita tak merindukannya? Ya jujur saja, saya sangat merindukan beberapa hal itu. Tapi amatlah merugi jika kita larut berkepanjangan didalam pusaran tak berbatas itu.

Ya, saya memahami. Kita semua masih sering mengingat-ingat kejadian lama. Terkadang membuat tubuh menggigil seolah nyawa sudah diujung kepala. Tapi aku ingin kita terlepas dari semua itu. Mari mulai saling merangkul, bergerak bersama menjauhkan diri dari maut kerinduan yang bersifat candu itu.

Hargai waktu yang masih dapat kita rasakan. Menggunakan sisa waktu sebaik mungkin adalah bentuk rasa syukur kita kepada tuhan semesta alam. Seperti halnya aku yang bersyukur kepada tuhan karena masih diberikan waktu untuk menulis kalimat bodoh ini. Aku ingin sesekali bertemu dan membelai rambut halus dikening kirimu. Tapi apalah daya, itu adalah kenangan yang membercak lalu menyebabkan komplikasi bernama Rindu. Dan aku benci ritme Kerinduan yang kurasakan saat ini.

MASA LALU ADALAH PEMBELAJARAN

Setiap kita punya cerita: tak perduli seberapa kelamnya cerita itu, seberapa pendek atau panjang, seberapa rumit atau sederhana.Semua itu menyusun hidup kita. mau tidak mau harus kita jalani.

Ini cerita saya, di mana pada waktu Sekolah Dasar saya pernah tidak naik kelas, Disinilah saya teluka. Bagaimana tidak, seorang anak kecil yang belum tahu apa-apa harus menahan malu karena ejekan. Dari tahun ke tahun hati ini terus berdarah.

Sayapun tak pernah lupa dengan kejadian itu, Dimana saya merasa sendirian, saya merasa tidak berguna, seakan saya tidak ada gunanya hidup.

Hingga pada suatu ketika saya tersadar, saya harus bangkit dari keterpurukan ini, dan pada saat itulah saya menjadi seorang yang ambisius.

Dengan kerja keras, saya bisa mendapatkan nilai yang bagus, dan saya suka membaca untuk memperkaya pengetahuan, saya suka tantangan, saya suka hal-hal baru, saya suka berorganisasi. setidaknya saya lebih baik dari pada masa lalu itu

"Terimakasih masa lalu, kau memberikan pembelajaran yang sangat luar biasa. mungkin tanpa masa lalu yang kelam itu, saya tidak berada di titik ini. Titik dimana saya lebih berharga.

 

Senin, 27 Juli 2020

Kini Kamu Hanya Orang Asing Yang Pernah Datang Disatu Ingatan

Transmormasi diri
"Suatu hari, ketika semua baik-baik saja
Kamu mulai mengatur rencana lain.
Diam-diam Kamu simpan niat untuk melepaskan,
kau berharap sesuai rencanamu".

"Entah Tuhan sedang baik padamu, 
atau Tuhan sedang mengujiku ?
Kamu berhasil mengelabuhiku,"

"Kamu meminta semua yang terikat selama ini
hal yang sungguhku jaga hati
ingin segera kamu akhiri." 

"Aku berharap itu hanya Gurauan,
meski hal seperti ini tidak akan lucu untuk dijadikan Gurauan,"

"Namun, ternyata kamu serius,
benar-benar serius.
Kamu menyiapkan segalanya dengan penuh kesungguhan."

"Hal yang aku sesalkan kemana saja aku selama ini ?
hingga tidak tahu Tanaman.
Tanaman di ladangku pun ternyata sudah tidak sepenuhnya ku miliki."

"Katamu, Kamu tidak suka kebohongan, tetapi kamu malah membohongiku.
katamu, kamu tidak suka dikhianati, tetapi kamu malah mengkhinatiku."

'Aku berharap semua hanya bunga tidur,
Bukan sesuatu yang akhirnya membuat harapanku hancur.
Hanya saja, kamu punya cara berbeda."

"Kamu mengaku tidak lagi punya rasa,
Hingga dengan tega dengan setengah memaksa.
kamu memintaku untuk lekas menjauh."

"Katamu, Aku bukanlah rumah yang Nyaman.
katamu, semua yang pernah terjadi,
segeralah buang dan anggap tidak pernah terjadi."

"Hingga suatu hari, Semesta seolah sedang bercanda,
Aku merasa Tuhan sedang menyadarkanmu,
atau Tuhan sedang mengujiku lagi ?"

"Entahlah, rasanya terlalu banyak berubah.
kamu datang lagi dengan sesal dan air mata yang terlihat menetes basi.
Katamu, semua orang bisa saja salah dan semua orang boleh meminta kesmpatan lagi."

"Aku ingin tersenyum waktu mendengarkanya.
Tetapi Kuurungkan, Ku takut air mata palsu itu
semakin membanjiri dan kebohongan terlihat semakin mengalir."

"Entahlah, aku tidak tahu apakah penyesalanmu itu sungguh-sungguh 
atau hanya bentuk kesepian sebab kamu ternyata tidak menemukan yang lebih baik."

"Aku ingin sekali mengulangi kisah manis itu seperti dulu.
Hanya saja, kisah manis itu berakhir begitu menyakitkan."

"Aku yang membangun semua harap,
kamu malah dengan mudahnya membuat berantakan."

"Ingatlah, jangan lupa kalau kamu pernah menginginkanku melupakanmu,
bukankah kamu seharusnya bahagia ? 
Bahagia karena akhirnya aku bisa memenuhi keinginanmu.
melupakanmu dengan sungguh. 
meski memalui proses melelahkan berkali-kali harus berusaha bangkit dari jatuh."

'Tuhan mungkin sedang baik padamu,
Dia menyadarkanmu agar berubah lebih baik.
Namun, itu bukan berarti memberimu kesempatan untuk menjadi bagian hidupku lagi."

"Kenapa malah ingin kembali ?
saat semua perasaan sudah pulih lagi."

"Hidup sudah berjalan, kini kamu hanya orang asing
yang pernah datang di satu ingatan"

"Kamu hanya masa lalu yang mengajari rindu waktu itu,
Bukan lagi seseorang yang penting untuk menjalani apa saja yang kini ku perjuangkan untuk hidupku. Pulanglah, kamu salah rumah."



Minggu, 26 Juli 2020

~Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

~Sapardi Djoko Damono, “Aku Ingin”

 

Sebagian dari kita mungkin sudah tidak asing lagi dengan sajak di atas. Acapkali sajak tersebut dijadikan sebuah pembukaan di undangan pernikahan, status di media sosial, dan atau di sebuah kado. Sajak tersebut merupakan salah satu tulisan Sapardi Djoko Damono.

Selain sajak di atas, Sapardi juga telah melahirkan karya-karya lain yang tidak kalah luar biasa. Seperti puisi berjudul Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Nanti, Yang Fana Adalah Waktu, Sajak Kecil Tentang Cinta, Hatiku Selembar Daun, Menjenguk Wajah di Kolam, Kenangan, Sementara Kita Saling Berbisik, Sajak Tafsir, dan lain-lain.

Sapardi Djoko Damono atau yang lebih dikenal dengan SDD lahir di Solo pada 20 Maret 1943 dari pasangan Sapariah dan Sadyoko. Tercatat, SDD pernah menimba ilmu di Fakultas Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan menyelesaikan doktoralnya di Universitas Indonesia (UI).

Berdasarkan laman resmi Kemendikbud, SDD diketahui pernah menjadi dosen tetap di berbagai universitas. Seperti diantaranya  IKIP Malang Cabang Madiun (1964-1968), Fakultas Sastra-Budaya di Universitas Diponegoro (1968-1973), dan Dosen tetap di Universitas Indonesia (1974-2005).

Sastrawan Sederhana

Pilihan kata yang sederhana dan mampu memunculkan imajinasi yang luar biasa. Dalam, luas, dan tak lekang oleh waktu. Banyak makna hidup yang SDD siratkan dalam suratan kata-katanya. Itulah gambaran dari setiap sajak yang berhasil dikarang oleh Sapardi heran jika banyak seniman yang memusikalisasi puisi-puisi sang maestro.

Bagi yang menyukai karya-karyanya Pak Sapardi Djoko Damono (SDD), tentu tidak asing dengan hal-hal sederhana dalam setiap karyanya.

Seperti dalam sajak berjudul “Aku Ingin”. Dalam sajak ini, Sapardi tidak memunculkan kata-kata yang melankolis, apalagi menggunakan istilah-istilah roman picisan. Namun, Sapardi lebih memilih diksi yang sangat sederhana. Api, abu, dan angin.

Itulah, betapa sederhanya sajak Aku Ingin”. Namun siapa yang dapat menyangkal, jika didalam sajak yang sederhana tersebut menyimpan makna yang mendalam.

Dalam sebuah talkshow di Mata Najwa, oleh Joko Pinurbo atau yang biasa disapa Jokpin, sajak “Aku Ingin” dianggap sebagai sebuah ungkapan kasih tak sampai. Jokpin juga menyebutkan bahwa puncak dari sebuah hubungan antara laki-laki dan perempuan adalam sebuah kesederhanaan dalam sebuah ikatan. Namun, untuk mengejawantahkan sebuah hubungan yang sederhana inilah yang justru tidak sederhana.

Selain sajak berjudul “Aku Ingin”, sajak berjudul “Hujan Bulan Juni” juga tidak kalah familiar. Bahkan sajak ini juga dijadikan sebagai sebuah judul buku kumpulan dari puisi-puisi SDD. Buku ini juga diangkat kedalam sebuah film dengan judul yang sama, dengan Velove dan Adipati Dolken sebagai pemeran utama di dalamnya.

Dalam novel tersebut, SDD menciptakan sebuah misteri dan tanda tanya di setiap babnya ini. Sungguh bisa membuka cakrawala bagi pembacanya. Selain itu, pembaca juga sedikit banyak akan terinspirasi oleh ciri khas penulisan novel penyair besar milik Indonesia ini.

Jika puisi-puisi Pak SDD telah dikenal luas, bahkan dikutip di mana-mana, maka prosa dalam buku Hujan Bulan Juni bisa membuat pembaca muda mengenal lebih dalam dunia kreativitas Pak SDD.

Saya sendiri memang baru menyelesaikan membaca novel itu beberapa waktu lalu. Dan saya sendiri pun tidak menyangka bahwa saya mendapatkan begitu banyak hal  pasca novel itu saya baca habis.

Beberapa hal yang saya dapat, misalnya, kebudayaan dari berbagai tempat seperti Solo, Menado, dan Jepang. Kemudian tentang bagaimana cara berpikir orang-orang Jawa (Solo) yang berbeda dari pada cara berpikir orang-orang Menado.

Dengan memahami itu, kita juga bisa memahami bahwa kebudayaan setiap entitas suku bangsa juga sudah pasti berbeda, kan?

Lalu cara Pak SDD meramu kelucuan sepasang insan yang (diduga) saling jatuh cinta. Kalimat-kalimat dan dialog-dialog antara tokoh lelaki bernama Sarwono dan tokoh perempuan bernama Pingkan, mampu membuat pembaca merasakan kedekatan antara tokoh-tokoh itu dengan diri pembaca sendiri.

Misalnya bagaimana ketika mereka saling ledek padahal mereka sedang saling merayu. Dan itu mengingatkan kita pada kondisi seperti saat cinta lokasi atau terbelit rasa pada salah satu teman kita.

Selain dua hal di atas, masih banyak hal-hal  menarik dan unik lain di dalam novel ini. Kejutan-kejutan pun akan bisa dirasakan pembaca menjelang akhir cerita.

Ada satu pertanyaan yang masih membuat saya penasaran pada kisah novel ini. Yaitu mencari titik temu antara puisi Hujan Bulan Juni dan gagasan besar dalam novel itu. Barangkali perlu perenungan ekstra atau saya sendiri yang kurang jenius untuk memaknainya.

Terlepas dari itu semua, ini bukanlah resensi buat novel tersebut, hanya sepatah komentar yang ingin dibagikan kepada teman-teman sekalian. Kini sastrawan besar Indonesia ini telah tiada.

Kendati demikian, semoga karya-karya Eyang Sapardi akan mampu menelurkan Sapardi-Sapardi baru yang mampu mengharumkan nama Indonesia. Selamat jalan, Eyang. Trimakasih atas semua karyamu yang luar biasa. Wallahu A’lamu bi al-Shawab.

Jumat, 24 Juli 2020

KERINDUAN DAN KEBIJAKSANAAN

Belajar dari hujan
Belajar dari Hujan

"Kerinduan dan Kebijaksanaan Bisa Datang dari Sikap Kita Seperti Memaknai Arti dari Derasnya Hujan yang Tercurah dan Mengalir Membasahi Bumi.... Sehingga Seberapa Sering pun Hujan Turun dengan Ciri Khasnya, Ia Pasti Kembali Lagi untuk Menghidupkan Bumi Kita yang Kering."

"Hujan Sebenarnya Telah Mengajarkan Kita Tentang Arti Sebuah Keikhlasan.... dan Hujan juga Mengajarkan Kita Tentang Makna dari Suatu Bentuk Perjuangan."

"Sungguh Orang - orang yang Berjuang Dengan Ikhlas, Takkan Pernah Berhenti Meski Terjatuh Berkali - kali, Layaknya Air Hujan yang Senantiasa Kembali dan Membumi."

"Merasa Kecil Karena Kebesaran Alam Bisa Membuat Seseorang Peduli Dengan Orang Lain.... Alias Dermawan. Bahkan Perasaan Seperti ini Mendorong Seseorang untuk Terpanggil & Membantu Menyejahterakan Kehidupan Orang Lain.
Jadi Jangan Terbawa Perasaan Jika di Antara Kita Sering Merasa Bagaikan *SEBUTIRAN DEBU*.

Hasilnya Menyebutkan Bahwa Seseorang yang Merasa Kecil & Menganggap Dirinya Bagaikan *SEBUTIRAN DEBU* Karena Dalam Dirinya Mengakui Kemegahan Alam dari Sang Kuasa... Ternyata Orang Tersebut Bisa Lebih Dermawan, Bahkan Orang itu Ternyata Lebih Peka juga Tergerak Hati untuk Membantu & Menolong Orang Lain, Bahkan Mahluk Lain di Muka Bumi ini."


Rabu, 22 Juli 2020

WAKTU ITU, AKU LENGAH

pohon kering
Ketika
bulan Mei pergi, maka Juni menjelang sampai padaku.
Waktu dan umur berlarian tiba, ketika jendela kupu-kupu tarung kubuka.
Cahaya pagi pertama membayanglah, menembus sudut-sudut berdebu.
Lalu bau lembab menjelma uap halus yang pergi diam-diam, melalui jendela yang terbuka.

Matahari pertama di awal bulan Juni ini akan menjadi penanda bagiku, lebih tepat kusebut sebagai pelajaran atas waktu yang tak pernah menunggu. Seolah umur memanjati pohon waktu itu, sampai ke setangkai dahan, tak pernah sampai pada puncak waktu itu. Sesungguhnya hanyalah misteri yang buram.

Juni adalah bulan kelahiranku. Aku pernah bangga terlahir di bulan Juni, merasa memiliki sifat-sifat seperti Sukarno, jiwa yang memimpin, berani berkorban demi bangsa, populer dan dikagumi para wanita. Kebanggaan semu yang ternyata tak menjelaskan apapun, bagaimana juga kekaguman itu tak membawaku kemana-mana.

Pada akhirnya seiring waktu pula itu menjadi hal yang biasa. Hingga aku punya kesadaran untuk menerima diri sendiri sebagai makhluk unik yang diciptakan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dapat kukatakan sejak itulah aku berhenti mengidolakan orang lain secara membabi buta. Kekagumanku pada seseorang tokoh atau publik figur seperlunya saja. Aku percaya sebagai manusia merekapun tak akan pernah merasa sempurna. Selalu merasa kekurangan dan tidak puas. Ada beberapa yang justru begitu takut menghadapi masa depannya sendiri, sehingga tak risau jika harus berselisih dengan sejawat sendiri.

Namun kupikir ini hanya dampak perubahan usia saja yang membuat aku makin matang dan dewasa. Juni adalah bulan yang indah. Sapardi bahkan menuliskan cerita tentang Hujan Bulan Juni dan karyanya itu bukan sekedar kumpulan puisi tapi sudah pula bermetamorfosa menjadi film. Mengagumkan sebagai pencapaian dari sebuah karya.

***

Aku lahir di bulan Juni, dan ada kurasakan keharubiruan jika aku membaca sajak-sajak Sapardi itu.

Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan Juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan Juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu

Sapardi Djoko Damono dalam Hujan Bulan Juni kadang membuatku bertanya, dari mana ide tentang hujan yang jatuh di bulan Juni itu?

Sebab di sini Juni sudah masuk dalam bulan-bulan kemarau. Kau bisa membayangkan cuaca panas dan terik berdebu, tanah yang rengkah, bunga-bunga yang layu, semua idiom yang tepat dengan kemarau itu harusnya dibulan Juni, bukan hujan. Namun bukankah musim sekarang ini dilanda anomali dan sungguh sulit diterka. Dan aku merasakan karena sifatnya yang anomali itu, maka hujan bulan Juni adalah romantisme tersendiri.
Di atas semua itu ada kesadaran yang makin hadir dalam kehidupanku. Ya, umur yang terus bertambah, anak-anak semakin besar dan makin memerlukan perhatian. Mereka akan meneruskan sekolah kejenjang yang lebih tinggi secara bersamaan di tahun ini, di era new normal yang mulai disosialisasikan para penguasa republik.
Era baru di tahun 2020 telah dimulai dengan munculnya virus berbahaya bernama covid 19 yang mengenalkan cara-cara baru, konsekwensi-konsekwensi baru, ketakutan-ketakutan baru. Semua yang akan mungkin menjadi tatanan dunia baru seperti teori konspirasi. Terkesan seperti hoax, mungkin tak seserius itu. 
 
Tapi kawan, akan selalu ada orang-orang yang memanfaatkan situasi umum yang sulit untuk menumpuk kekayaan sendiri. Seperti tokoh Cottard dalam Novel Sampar Albert Camus. Juni ini menjadi sebuah waktu dalam suasana yang penuh ketakpastian. Dan meski berusaha untuk selalu riang tetap saja ada sudut yang menyimpan ketakutan. Apalagi kebijakan pemerintah seperti tak mampu memberikan rasa nyaman bagi warga masyarakat, sering berganti dan kurang tegas.

***

Juni adalah bulan yang kukenang dan setiap kehadirannya selalu kusambut dengan sepi. Aku nikmati sendiri atau dengan orang yang benar-benar dekat. Entah mengapa aku tak pernah bisa masuk dalam kekenesan merayakan ulang tahun dengan menyanyikan lagu Jamrud atau lainnya sambil yang berulang tahun meniup lilin pada sebuah kue tar.

Aku tak pernah ingin seperti itu, namun aku bisa menenggang jika teman-temanku bersikap seperti itu, dan aku akan ikut bernyanyi dengan gembira dan menerima pembagian kue atau tumpeng. Ya setiap orang punya pilihan dalam merayakan hari jadinya, kita perlu juga menghargai setiap pilihan itu.

Aku setelahnya merenungi arti kelahiran ku ini, dan pada waktunya aku sampai pada pertanyaan didalam hatiku, berapa lagi sisa umurku? . Jika ada yang akan merahasiakan tahun kelahirannya dengan alasan tertentu, aku sebaliknya akan berterus terang soal itu. Tak ada keberatan diriku akan pengetahuan orang lain tentang ini. Biasanya mereka akan berkata; kau awet muda.

Aku akan tertawa kecil, merasakan kejujuran dalam ucapan itu, sebab aku merasakan banyak teman kecilku yang kulihat lebih tua dari umurnya. Sebagai anak lelaki tunggal dalam keluarga tak ada keistimewaan soal ini, selain yang kuingat ibu akan merebus banyak telur dan membagikannya dengan rekan-rekanku, tanpa perayaan, tanpa ucapan yang khusus. Lebih tepat kukatakan keluarga kami tak terbiasa.

Ibu kehilangan dua bayi laki-laki sebelum melahirkan aku. Aku tak mengetahui sebabnya karena ibu pun tak pernah ingin bercerita tentang ini. Kami lalu pindah rumah meninggalkan dua kuburan bayi itu dirumah lama yang dekat dengan pasar di kota kecamatan, kesebuah tempat yang lebih sepi dan di sanalah aku lahir.

***

Entah mengapa setiap menjelang Juni aku akan melihat penjual kaos online menjajakan kaos bertuliskan Lelaki Terbaik Lahir di Bulan Juni. Tapi aku tak pernah membeli, itu bagiku tak lebih strategi dagang selain itu bahannya buruk.Bukan karena Juni merupakan waktu kelahiran pria terbaik seperti bacaan pada kaos itu, tapi bertaburan tanggal penting pada bulan Juni, ini yang lebih mengesankan buatku.

Pada bulan Juni aku akan mengenangkan hari pernikahanku pada tanggal paling ujung dibulan itu. Dan apakah ini suatu kebetulan saja, putri pertama kami lahir setahun kemudian tepat ditanggal tersebut.

Aku mengingat pernikahan kami dengan sederhana,ayah begitu senang ketika itu. Setelah pernikahan kami ia merebahkan diri dengan senyum puas di tilam dan berkata,ia tak akan keberatan jika Tuhan mencabutnyawanya.Ia meninggal satu tahun setengah setelah pernikahan kami.

Hari-hari yang kuhadapi semakin keras. Pada waktu-waktu tertentu aku mesti mempertaruhkan keberanian untuk mendapatkan sesuatu. Saat itu aku hanya percaya pada persahabatan, dan mulai membangun aliansi dan jejaring, mencari momentum yang tepat untuk melompat lebih tinggi.

***

Usia perkawinan kadang menua tanpa kita sadari. Setelah menjalani banyak hal bersama, tak dirasa umur terus berjalan diantara hempasan jeram kehidupan.
Yang terjadi hari ini sudah pasti berbeda dengan dulu, bukankah waktu selalu membuat kita berubah?. Kami juga tanpa dirasa sudah akan 16 tahun berlayar melewati samudera hidup.
Sebuah surat tiba-tiba muncul dari lipatan buku belajar menulis karangan Mochtar Lubis. 

Menyentak kan ingatan ke masa muda yang jauh.
Hidup memang terasa sulit bahkan sekedar tuk dimengerti.
Tapi keyakinan bukanlah sebuah keyakinan jika tak dijalani.
Apa yang kita bicarakan semalam adalah refleksi kemelut batinku beberapa hari ini.
Aku yakin bersamamu bisa mengatasi badai kehidupan dan berjuang mengalahkannya.
Aku yakin dengan kasihsayang kita dapat bersama untuk tegar mengatasi rintangan.
Masalahnya bagiku saat ini, seberapa jauh aku bisa menanamkan keyakinan yang sama di hatimu.
Sementara saat ini aku bukanlah apa-apa, sebuah hal yang harus kuakui dengan kejujuran terdalam.
Kelebihan yang kumiliki hanya aku tidak terlahir untuk menjadi orang lain.
Aku ingin menjadi srigala yang mengaum keras ditengah gerombolan srigala lainnya.
Aku ingin menjadi pohon kukuh yang tersisa setelah lewat hempasan badai.
Aku ingin menjadi pelaut tangguh yang menaklukkan ombak samudera.
 
Dan aku butuh lebih dari sekedar teman untuk wujudkan impianku.Seseorang yang penuh dengan keyakinan menerima rengkuhan cintaku dan membalasnya.Sebuah kalimat untuk lebih mudah kau mengerti : aku menginginkanmu. (*)

Senin, 13 Juli 2020

KEGAGALAN MANUSIA MODERN DAN MANUSIA TRADISI

Apa yang diketahui oleh manusia tentang spiritualitas ? tentang ruh, jiwa ( juga sukma, perasaan, roso, nafs, dan seterusnya), serta hubungannya dengan dunia fisik ?


pariwista kehidupan

        Manusia memiliki kesanggupan terbatas untuk menggali sendiri pengetahuan tentang masalah itu, tetapi di luar batas eksplorasinya itu, manusia juga membutuhkan informasi dari wahyu Allah. Karena itulah agama diperlukan oleh manusia bukan sekedar sebagai “peraturan” tetapi lebih penting lagi sebagai informasi ilmu, yang sesungguhnya merupakan landasan mutlak bagi setiap dimensi hukum yang dikandung oleh agama.

           Ekplorasi ilmu tradisonal terhadap dunia spiritualitas cenderung terjebak pada takhayul, klenik atau mitos. Sementara masyarakat modern kurang “berselera” untuk memasuki wilayah spiritualitas, dan terjebak pada semacam ketidakpercayaan terhadap spiritualitas. Dengan kata lain, orang tradisi “menyembah hantu” sedangkan orang modern “menyembah batu”.

            Oleh karena itu, akan berkesimpulan pada titik ekstem yang tertentu, baik masyarakat tradisi atau masyarakat modern terjebak pada kegagalan cukup serius dalam usahanya merumuskan perjalanannya menuju penyatuan diri kembali ke hakikat Tuhan, hakikat alam, dan dengan demikian juga hakikat kemanusiaannya sendiri.

            Berangkat dari filosofi manusia modern yang ingin menaklukan alam, sedangkan filosofi manusia tradisi yang ingin menyatu dengan alam. Akan membuahkan konsekwensi manusia modern mengatasi alam, menteknologikan alam menjadi budaya karena memang salah satu ciri manusia modern yang berwatak dinamis, sementara manusia tradisi berwatak pasif dan konservasif dalam arti manusia tradisi cenderung menerima apa adanya dan kolot mempertahankan budaya yang sudah ada, mungkin itu karena berfilosofi melebur alam. Lalu mana yang “benar” daintara keduannya ?

            Memandang filosofi yang berbeda diantara keduannya. Dinamika manusia modern dengan teknologinya akhirnya terjebak dengan kekeringan ruhani karena perjalanan ke depan mereka memakai perspektif waktu yang linier ( selalu bergerak lurus ), hampir jadi, langkah ke depan mereka adalah langkah menjauh dari alam dan Tuhan. Perlu dingat sebenarnya dalam islam memiliki konsep wa ilaihi turja’un : kepergian hidup manusia ini kembali kepada Allah, artinya perjalanan ke depan sekaligus kembali ke “belakang”. Konsep waktu dalam islam adalah siklis, membulat, atau melingkar. Sedangkan  secara filsafat, perjalanan manusia modern dirumuskan dalam orientasi eksisitensialisme - menyuruh dirinya sendiri menjawab keadaan yang menimpanya -, dan itu artinya menjauh dari Allah, atau dengan bahasa islamnya ; anti tauhid.

            Sementara pada masyarakat tradisi –yang sebenarnya memiliki konsep waktu siklis- metode untuk “kembali ke Allah” itu ditempuh tidak dengan kata “maju ke depan” tetapi dengan “berjalan di tempat” atau “balik ke belakang”. Jadi, baik manusia modern maupun tradisi melakukan tarekat yang masing-masing memiliki kekurangan, bahkan bisa dikatakan keliru. Manusia modern sukses mengkhilafahi alam, tetapi keliru orientasinya sehingga tidak taqorrub kepada Allah. Sementara manusia tradisi bertahan dekat dengan Allah, akan tetapi gagal melaksanakan kekhalifahan yang dinamis.

            Sebenarnya ini adalah peta peradaban yang sangat luas sekali, tugas kita sebagai manusia seutuhnya ialah fokuskan pada persoalan pariwisata kehidupan. Pariwisata kehidupan adalah fenomena religius, yang mana dengan sebab itu manusia modern dapat memasuki proses teknologi kebudayaan, yakni arah menjauh dari alam, kemudian menciptakan peluang-peluang khusus untuk kembali ke alam, lalu kembali kepada Tuhan. Kerapkali kegagalan ruhaniah ( spiritual ) kebudayaan modern itu sebab kegelisahan oleh “alam bawah sadar” mereka sehingga kemudian di telurkanlah antara lain alternatif budaya yang bernama pariwisata kehidupan.

             


Cahaya yang kau lewatkan

  Andai saja aku biarkan mata ini terjaga agar bisa menyambutmu kedatanganmu, apakah hal tersebut akan menjadi suatu kebahagiaan untukmu? Te...